Kalau lo pernah main Football Manager era 2012–2015, nama Gerard Deulofeu itu udah kayak cheat code.
Bakat mentah dari akademi legendaris La Masia, punya:
- Speed tinggi banget
- Dribble lincah, kaki nempel ke bola
- Dan gaya main “nabrak tapi elegan”
Waktu dia debut bareng Barcelona senior, banyak yang bilang:
“Dia bakal jadi the next big thing.”
Tapi hidup gak segampang hype media. Bakat gede = ekspektasi gede juga. Dan karier Deulofeu justru ngebuktikan: talenta aja gak cukup kalau gak nemu ritme yang pas.

La Masia: Tempat Deulofeu Dilahirkan (Secara Sepak Bola)
Gerard Deulofeu lahir 13 Maret 1994, di Catalonia, dan sejak kecil udah masuk akademi Barcelona.
Di La Masia, dia dikenal:
- Jago banget ngedribble
- Punya finishing oke dari flank
- Dan mental menyerang tanpa takut
Dia naik kelas cepat banget, dan debut bareng tim senior Barca saat usianya masih 17 tahun. Tapi masalahnya:
- Saingannya berat (Neymar, Pedro, Alexis)
- Permainan Barcelona waktu itu gak terlalu cocok buat winger yang main solo run
Akhirnya dia dipinjamkan. Dan mulailah era “tur wisata” Deulofeu di Eropa.
Everton (Era Pertama): Flashy Tapi Belum Matang
Musim 2013/14, dia dipinjamkan ke Everton dan langsung menarik perhatian.
- Dribble lincahnya cocok banget buat Premier League
- Beberapa gol cantik, termasuk ke gawang Arsenal
- Tapi… inkonsistensi jadi masalah utama.
Deulofeu masih terlalu sering “maksa nyerang sendiri”, dan belum ngerti ritme kolektif.
Setelah sempat balik ke Barca, dia malah dipinjamkan ke Sevilla, kemudian balik ke Everton (kali ini dibeli permanen).
Everton (Era Kedua): Chemistry dengan Lukaku, Tapi Tetap Tidak Stabil
Bareng Romelu Lukaku, Deulofeu sempat jadi pelayan utama di sisi kanan.
Assist-assist dari cutback dan crossing jadi andalan.
Tapi:
- Dia kadang ngilang di pertandingan besar
- Gaya mainnya masih terlalu individual
- Lawan udah mulai bisa baca gerakannya
Meski begitu, Everton fans tetap punya soft spot buat dia. Karena ya, kalau dia lagi “on fire” — dia bisa rusuhin satu sisi sendirian.
AC Milan: Masa Transisi dan Adaptasi Gaya Baru
2017, dia dipinjamkan ke AC Milan.
Dan surprisingly, dia mulai lebih dewasa.
- Main lebih disiplin
- Belajar defense & transisi
- Masih jago dribble, tapi gak maksa semua dipecahkan sendiri
Performanya di Serie A waktu itu lumayan stabil, dan bikin Barcelona kembali aktifkan klausul beli balik.
Barcelona (Balik Lagi): Gak Dapat Tempat
Balik ke Camp Nou 2017/18, ekspektasi tinggi banget. Tapi lagi-lagi:
- Messi tetap dominan
- Dembélé baru dateng
- Saingan makin berat
Deulofeu susah nyari jam main. Dan akhirnya, dipinjamkan ke Watford.
Watford: Di Sini Dia Akhirnya “Meledak”
Di Premier League, bareng Watford, Deulofeu seolah nemuin panggung buat jadi dirinya sendiri.
Highlight moment-nya?
- FA Cup semifinal 2019 lawan Wolves: dia cetak 2 gol, salah satunya gol chip indah dari sisi sempit.
- Musim itu dia bikin 10+ gol + 5 assist.
- Jadi duet seru bareng Troy Deeney — kombinasi flair + power.
Sayangnya, cedera ACL parah menghantam di 2020. Kariernya langsung “pause total.”
Udinese: Kebangkitan dan Karier yang Lebih Bijak
Setelah pulih, Deulofeu gabung Udinese — klub Serie A yang sering kasih ruang buat pemain dengan gaya bebas.
Dan ternyata:
- Dia main lebih dewasa
- Gak banyak buang bola
- Masih punya akselerasi dan insting cut inside
Musim 2021/22 dia cetak 13 gol + 5 assist — jadi top scorer klub.
Udinese kasih dia kebebasan, dan dia balik jadi senjata utama.
Tapi sayangnya, cedera kembali datang. Sejak 2023, dia belum benar-benar pulih total. Dan masa depannya tergantung pada kondisi fisik.
Gaya Main: Dribble, Cut Inside, dan Chaos Terukur
Deulofeu adalah winger klasik dengan sentuhan flair modern:
- Jago 1v1
- Cut inside dari kanan ke kiri (atau sebaliknya)
- Finishing kaki kanan bagus
- Speed + sentuhan pertama jadi kekuatan utama
Dia bukan pemain kolektif banget, tapi kalau tim butuh “pembeda” — dia bisa nyala kapan aja.
Statistik Penting (hingga 2024):
- Barcelona: 23 penampilan, 2 gol
- Everton: 75+ penampilan, 8+ gol
- Watford: 70+ penampilan, 17 gol
- Udinese: jadi bintang utama sampai cedera
- Timnas Spanyol: 4 caps, 1 gol (sayangnya gak pernah jadi starter reguler)
Kesimpulan
Gerard Deulofeu itu bukan pemain gagal. Dia pemain berbakat yang kariernya unik banget.
Dia:
- Punya bakat luar biasa sejak remaja
- Sempat gak nemu tempat pas di klub besar
- Tapi terbukti bisa jadi bintang saat dapat kepercayaan dan peran tepat
- Dan meski dilanda cedera, dia tetap punya kualitas buat comeback.
Kalau sepak bola itu soal momentum, Deulofeu pernah punya banyak — dan siapa tahu, dia belum selesai.
